Pusat HKI

Pusat Haki Fakultas Hukum UII Logo.jpg
You are here: Berita / News
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
PDF E-mail
Written by Muh. Arief   
Sunday, 17 April 2011
MEMBANGUN BISNIS YANG BERORIENTASI HKI: SOLUSI MENGHADAPI KRISIS KEUANGAN GLOBAL


A. Pengantar

Krisis keuangan global yang terjadi pada pertengahan tahun 2008 dan diperkirakan berlanjut pada tahun 2009 merupakan fenomena yang sangat mengkhawatirkan pada sebagian masyarakat. Kekhawatiran tersebut menjadi logis mengingat dampak dari krisis keuangan global ini dapat menimbulkan sejumlah permasalahan di masyarakat. Salah satunya permasalahannya adalah munculnya gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di seluruh belahan dunia tidak terkecuali di Indonesia. Menurut beberapa pengamat diperkirakan gelombang PHK ini akan terjadi secara besar-besaran pada tahun 2009.

Dengan kenyataan ini tentu bagi masyarakat yang sekiranya akan terkena dampak krisis keuangan globlal menjadi sebuah momok. Namun demikian, sebenarnya krisis keuangan global tidak perlu disikapi secara berlebihan, tetapi justru hal positif yang harus dilakukan adalah menjadikan keadaan tersebut sebagai momentum guna membangun bisnis yang berorientasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI), mengingat trend perkembangan bisnis ke depan juga menuntut demikian. Bisnis yang berorientasi HKI adalah suatu aktivitas bisnis yang didasarkan pada kreatifitas yang terproteksi secara hukum. Sungguh, apabila bisnis yang berorientasi HKI ini dapat diterapkan bukan menjadi keniscayaan akan dapat menjadi solusi dalam menghadai krisis keuangan global.



B. HKI sebagai Hak Monopoli atas Kreatifitas dan Inovasi

Hak kekayaan Intelektual merupakan terjemahan dari intellectual property rights. Hak kekayaan intelektual memiliki pengertian sebagai hak hukum yang diberikan untuk hasil-hasil kreasi intelektual manusia. Hak kekayaan intelektual sendiri secara konseptual terdiri dari beberapa macam. Menurut Tread Related Aspect of Intellectual Property Rights (TRIPs) Agreement mengklasifikasikan HKI terdiri dari: 1). Hak cipta dan hak terkait (copyrights and related rights); 2). Merek dagang (trademarks); 3). Indikasi geografis (geographical Indications); 4). Desain industri (industrial designs); 5). Paten (Patents); 6). Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu (layout-designs (topographies) of Integrated circuit); 7). Perlindungan informasi rahasia (protection of undisclosed information); dan Pengawasan terhadap praktek anti kompetitif dalam kontrak lisensi (control of anti competitive pratices in contractual licences).

Dalam HKI terdapat karakteristik khusus yang berupa hak monopoli atas kreatifitas yang inovatif dan kreatif. Hak monopoli artinya pihak yang memegang HKI diberikan beberapa kekuasaan, yakni; Pertama, hak untuk menggunakan sendiri atas HKI. Menggunakan HKI dapat dimaknai memproduksi, mendistribusi, mengekspor, memperbanyak atau mengumumkan sendiri. Kedua, memberikan lisensi dan mengalihkan HKI kepada pihak lain. Memberikan lisensi adalah izin yang diberikan oleh pemegang HKI kepada pihak lain berdasarkan perjanjian pemberian hak untuk menikmati manfaat ekonomi dari suatu HKI yang diberikan perlindungan dalam jangka waktu dan syarat tertentu. Kemudian dalam hal mengalihkan HKI mengandung arti tidak berlandaskan pada izin dalam jangka waktu tertentu. Artinya, pemegang HKI telah mengalihkan HKInya kepada pihak lain dalam sekali perbuatan hukum. Perbuatan hukumnya berupa; perjanjian yang dibenarkan menurut ketentuan perundang-undangan yang berlaku, hibah, wasiat, warisan dan jual beli; dan Ketiga, hak untuk melarang orang lain/badan hukum menggunakan HKI tersebut.

Agar kreatifitas yang inovatif dan kreatif ini dapat memperoleh HKI, dimana memiliki arti mempunyai hak monopoli, maka di dalam ketentuan HKI yang berlaku di Indonesia ada beberapa persyaratan. Ada tiga persyaratan yang harus dipenuhi agar sebuah kreatifitas yang inovatif dan kreatif ini memperoleh hak monopoli, yakni; memenuhi persyaratan substantive, persyaratan administratif dan persyaratan prosedural.

Pemenuhan persyaratan substantif, suatu kreatifitas yang inovatif dan kreatif ini untuk memperoleh HKI tentunya mengacu kepada masing-masing klasifikasi HKI. Sebagai contoh, untuk klasifikasi hak cipta syarat substantif yang harus dipenuhi adalah harus orisinal dan diwujudkan (fixation) . Paten mempersyaratkan secara substantif harus memiliki kebaruan (novelty) , langkah inventif (inventif steps) dan dapat diterapkan dalam industri (industrial applicable) ; dan Desain industri mempersyaratkan syarat substantif berupa pemenuhan unsur kebaruan (novelty) dan memiliki nilai estetika.

Pemenuhan persyaratan administratif, suatu kreatifitas yang inovatif dan kreatif selain memenuhi persyaratan substantif juga harus memenuhi persyaratan administratif. Persyaratan administratif merupakan hal yang sangat penting juga untuk menentukan kreatifitas tersebut memperoleh HKI sebagai hak monopoli. Contoh dalam hal pemenuhan syarat administratif ini sebagaimana persyaratan administrative untuk desain industri yakni; a). mengisi formulir permohonan desain industri; b). Contoh fisik atau gambar atau foto dan uraian dari desain industri yang dimohonkan pendaftarannya; c). Surat kuasa khusus, dalam hal permohonan diajukan melalui Kuasa; d). Surat pernyataan bahwa desain industri yang dimohonkan pendaftarannya adalah milik pemohon atau milik pendesain.

Pemenuhan persyaratan prosedural di sini yang dititikberatkan adalah pada pemenuhan prosedur baik secara tahapan-tahapannya maupun waktu yang telah ditetapkan oleh ketentuan perundang-undangan dalam bidang HKI. Dalam konteks ini, maka mestinya harus dihindari adanya upaya penyimpangan atas prosedur tersebut. Sebab, dapat dipastikan penyimpangan atas prosedur akan berakibat hokum atas hak monopoli dari HKI yang diperoleh atas kreatifitas tadi.

Akhirnya dapat dikemukakan bahwa dengan adanya karakteristik khusus ini, maka inilah sesungguhnya yang menjadi kekuatan dalam HKI. Kekuatan inilah yang mendorong bisnis dapat berjalan secara berkelanjutan dan sekaligus melahirkan model inovasi atau kreatifitas dalam bisnis itu sendiri.



C. Bisnis yang Berorientasi HKI: Solusi Menghadapi Krisis Keuangan Global

Kata Bisnis berasal dari kata business yang diambil dari kata busy yang mengandung arti sibuk. Dalam ilmu ekonomi bisnis mengandung arti suatu organisasi yang penjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya. Pelaku bisnis sendiri dapat dipahami dalam konteks individu atau komunitas ( tri_s.staff.gunadarma.ac.id diakses tanggal 21 Desember 2008) .

Bisnis dalam arti luas adalah istilah umum yang menggambarkan semua aktifitas dan institusi yang memproduksi barang dan jasa dalam kehidupan sehari-hari. Bisnis adalah kegiatan yang dilakukan oleh individu dan sekelompok orang(organisasi) yang menciptakan nilai (create value) melalui penciptaan barang dan jasa (create of good and service) u ntuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan memperoleh keuntungan melalui transaksi. ( tri_s.staff.gunadarma.ac.id diakses tanggal 21 Desember 2008) .

Di dalam praktek bisnis biasanya ditawarkan sejumlah produk, baik berupa barang atau jasa. Sebagian besar produk barang atau jasa sesungguhnya memuat aspek-aspek HKI. Umumnya aspek-aspek HKI ini menjadikan produk tersebut dianggap kreatif dan inovatif. Maka, jelaslah bahwa praktek bisnis yang menawarkan produk barang atau jasa yang kreatif dan inovatif sangat sarat dengan HKI. Oleh karenanya HKI haruslah menjadi suatu pertimbangan di dalam praktek bisnis. Dengan HKI dijadikan dasar pertimbangan dalam praktek bisnis, maka akan mendorong suatu praktek bisnis yang kompetitif dan memiliki daya saing tinggi.

Dilain pihak HKI juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk bisnis itu sendiri yang tidak membutuhkan upaya memproduksi barang atau jasa. Model bisnis HKI seperti ini salah satunya dapat dilihat pada model bisnis franchasing (waralaba).

Model bisnis franchising (waralaba) menurut ketentuan Pasal 1 angkat 1 PP No. 16 Tahun 1997 adalah perikatan di mana salah satu pihak diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan pihak lain tersebut, dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan atau jasa.

Sedangkan menurut Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), yang dimaksud dengan bisnis francshising (waralaba) ialah: Suatu sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir, dimana pemilik merek ( franchisor ) memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem, prosedur dan cara-cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu (wikipedia.org).

Dari konsep bisnis francshing, jelaslah bahwa francshising merupakan sebuah aktivitas bisnis yang berbasis pada HKI. Dalam konteks ini, pemegang HKI yang mana dikuasai oleh franchisor tidak berorientasi memproduksi produk barang atau jasa yang dimiliknya, tetapi lebih kepada upaya memberikan hak monopoli HKInya kepada franchisee. Artinya, franchisee- lah yang memproduksi barang atau jasa tersebut. berdasarkan standar dari franchisor (pemegang HKI), kemudiaan franchisee diberikan kewajiban-kewajiban di antaranya memperoduksi barang atau jasa sesuai standar dari franchisor (pemegang HKI) dan membayar imbalan atau royalti fee kepada franchisor (pemegang HKI).

Sebagaimana diuraikan di atas produk barang atau jasa yang mengandung aspek HKI pada hakekatnya memberikan peluang pada pemilik produk barang atau jasa tersebut berupa hak monopoli. Di samping itu, produk barang atau jasa juga akan bersifat kreatif dan inovatif sebagaimana HKI mempersyaratkan hal itu. Dengan demikian, selama hak monopoli itu terjaga berarti produk itu aspek kreatif dan inovatifnya juga akan terjaga. Alhasil, dengan bisnis seperti ini, maka bisnis ini akan tetap terjaga eksistensinya dan ketahanannya. Dan biasanya, bisnis seperti ini jauh akan lebih diminati oleh konsumennya mengingat pada bisnis ini ada sesuatu yang berbeda para produknya dimana hal ini tidak ditemukan ditempat lain. Sesuatu yang berbeda itu terletak pada produknya yang bersifat kreatif dan inovatif.

Dengan demikian, apabila bisnis yang dilakukan oleh para pelaku bisnis di Indonesia ini memanfaatkan bisnis yang diorientasikan pada HKI, maka sesungguhnya memiliki peluang bagi bertahannya bisnis tersebut terlebih tatkala dunia saat ini sedang dihadapkan pada krisis keuangan global. Ketahanan dari bisnis ini juga mengingat Indonesia juga merupakan pangsa konsumen yang sangat besar, dimana mereka pada dasarnya sangat merindukan pada suatu produk yang inovatif dan kreatif tadi. Di sinilah hubungan antara bisnis yang berorientasi HKI dan solusi menghadapi krisis keuangan global.

 
< Prev   Next >
 
AGENDA ACARA
 

1. Pendaftaran HKI

2. Kegiatan Terdekat

3. Konsultasi/Pertanyaan

4. Lihat Konsultasi/Pertanyaan

Artikel Terbaru

MENGURAI HAK CIPTA DI INTERNET
Kecanggihan teknologi kian hari kian meningkat. Peningkatan ini tidak terlepas dari hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Khusus, pada bidang teknologi kemajuan teknologi tidak lepas juga dari proses inovasi. Alhasil, saat ini telah hadir dihadapan masyarakat dunia teknologi terkini yang mampu menghubungkan antar umat manusia diseluruh dunia melalui jejaring antar komputer yang dikenal dengan internet. Tak pelak lagi, dengan adanya internet banyak sikap dan perilaku manusia yang berubah. Sesuatu yang dahulu tidak didapat di dunia nyata, maka kini hal tersebut terjadi. Semisal, dalam hal kebebasan berekspresi, dengan internet semua orang mampu melakukan kebebasan berekspresi tanpa ada rasa khawatir akan ada larangan dan tuduhan pelanggaran hukum.
 

Aktif Mengakses